Teman Sebaya dalam Pendidikan


Setelah berjalan beberapa waktu dan mulai saling mengenal beberapa teman, disinilah mulai terbentuk kelompok teman sebaya (peer group) yang menjadi kelompok rujukan (reference group) dan mulai membentuk sikap dan perilaku setiap individu dalam kelompok tersebut. Sosialisasi melalui kolompok teman sebaya dapat berjalan secara langsung dan tidak langsung baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah itu sendiri.
Pengaruh sosialisasi kelompok teman sebaya dapat dilihat melalui kepribadian seseorang apakah mempengaruhi kehidupan sesorang. Menurut Henslin dalam (Damsar, 2015) bahwa kelompok teman sebaya memiliki daya pikat terhadap seseorang untuk bergabung di dalamnya dan dapat menjadi memiliki sifat yang memaksa terhadap seseorang. Hampir seseorang tidak dapat atau tidak mungkin untuk melawan aturan dalam kelompok teman sebaya yaitu penolakan. Jika seseorang tidak dapat melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain dalam kelompok tersebut maka ia dapat dikatakan sebagai orang luar dan tidak menjadi lagi bagian dari kelompok itu. Itulah yang dikatakan sebagai sifat yang bersifat memaksa dalam kelompok teman sebaya. Bagi anak-anak yang sedang berkembang dan belajar menganggap dan merasakan bahwa kelompok teman sebaya memiliki kekuasaan yang kuat dalam menemukan jalan hidup anak tersebut. Akibat dari hal itu, kelompok teman sebaya lebih mendominasi kehidupan kita dengan adanya standar tiap-tiap kelompok. Misalnya, jika dalam kelompok teman sebaya suka mendengarkan musik K-pop maka tidak dapat dipungkiri anggota yang lainnya akan mengikuti hal tersebut. Jika kelompok teman sebaya ingin masuk perguruan tinggi negeri favorit maka anggota kelompok yang lain mengikutinya dengan tujuan untuk maju kedepan. Hal ini juga berlaku jika kelompok teman sebaya menggunakan pakain model barat yang cenderung melanggar norma kesusilaan dan kesopanan di masyarakat, tidak dipungkiri anggota lainnya juga akan mengikutunya. Juga berlaku jika anggota kelompok teman sebaya memakai narkoba untuk berpesta, bisa saja anggota yang lain juga akan ikut menggunakan narkoba itu. Itulah pengaruh dari kelompok teman sebaya, baik yang positif maupun negatif. Jika pengaruh kelompok teman sebaya mengarah ke hal positif tentu itu akan menjadi nilai lebih yang bermafaat bagi setiap individu yang ada di dalamnya. Sebaliknya jika kelompok teman sebaya memiliki pengaruh negatif dan cenderung melanggar norma di masyarakat bahkan sampai melanggar hukum merupakan sebuah kerugian bagi individu yang ada di dalamnya.
Oleh sebab itu dapat kita pahami bahwa sosialisasi kelompok teman sebaya tidak harus semua individu di dalamnya wajib sama. Karena tujuan sosialisasi yaitu saling mengetahui satu sama lain, saling melengkapi jika ada kekurangan. Dan sebaiknya sosialisasi teman sebaya dapat mengarah ke hal yang bersifat positif dengan arah kemajuan untuk masa depan. Kelompok teman sebaya yang bisa menjadi kelompok rujukan dapat beragam. Bisa berbentuk kelompok teman sebaya satu kelas, sedaerah atau sekampung, sealumni, dan lainnya. Sedangkan kelompok rujukan berkaikatan dengan keberagaman guna untuk mencapai tujuan yang sama. Misalnya, motivasi belajar dengan keras dan sungguh-sungguh guna mencapai tujuan masuk perguruan tinggi negeri favorit anggota yang dirujuk adalah kelompok teman sekelas atau bisa juga teman satu sekolah.

Penerapan Kelompok Sebaya sebagai Situasi Belajar

Perbedaan dalam dunia teman sebaya dan dunia orang dewasa antara lain :
1.      Jika dalam dunia orang dewasa,anak berada di posisi bawah. Sedangkan dalam temann sebaya, mereka memiliki posisi yang sama atau sederajat dengan anak lain. Di dalam kelompok sebaya itu :
a.       Anak akan belajar dari teman yang lain
b.      Tidak merasa begitu terpaksa saat menerima ide dan sikap dari guru-guru nya, karena dalam teman sebaya guru tersebut adalah teman sebaya atau seumuran mereka.
c.       Bebas dalam belajar bersikap dan berpikir
d.      Bebas mencari hubungan dengan sifat pribadi dan bebas diterima oleh teman sebayanya
2.      Kelompok sebaya kurang menggunakan perasaan nya atau emosionanya. Pembelajaran di kelompok sebaya ini cenderung lebih netral, dalam arti mereka bebas mencoba sesuatu dan belajar tanpa terikat dengan peraturan seperti di sekolah dan tidak terkait pada guru. Karakteristik lainnya dari kelompok sebaya adalam mudahnya dalam berganti teman. Sifat tersebut merupakan kurangnya keterkaitan secara emosi pada anak atau remaja. Mudah berganti teman mencerminkan kebebasan psikologi yang lebih besar dalam kelompok sebaya dari yang ada dalam kelompok sosial lain.
3.      Pengaruh kelompok sebaya cenderung lebih penting dibandingkan dengan pengaruh di keluarga, karena mereka lebih sering bersama dengan kelompok sebayanya.


Fungsi dari Kelompok Sebaya

Fungsi dari kelompok sebaya yang sebagian besar diharapkan orang ialah dapat mengajarkan bagaimana pergaulan dan hidup bersama dengan baik. Tetapi fungsi utamanya antara lain:
1.      Mengajarkan kebudayaan masyarakat melalui interaksi di dalanya yang berharap mereka dapat bermain,berbicara,berpikir,dan berbuat dengan cara yang diharapkan dalam masyarakat. Dari fungsi tersebut anak akan belajar standar moralitas orang dewasa di dalam masyarakat, tentu saaja hal tersebut berkembang dari bersifat kekanak-kanakan sampai menjadi standar moralitas orang dewasa. 
Di dalam kelompok sebaya diajarkan peran sosial yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Anak laki-laki akan belajar dari teman sebayanya tingkah seperti apa dan bagaimana. Sama halnya seperti laki-laki, perempuan juga akan belajar dari teman sebaya yang sesuai dengan perannya sebagai perempuan.
2.      Mengajarkan mobilitas sosial. Maksud tersebut adalah mengajarkan berteman dan berperilaku yang baik dari sosial rendah ke sosial menengah. Sebagai contoh, ada seseorang sebagai anak petani berteman dengan sebayanya dengan sosial menengah, akhirnya anak petani dapat tergerak hatinya untuk menuntuk pendidikan yang lebih tinggi agar dapat mendapatkan status sosial yang lebih tinggi dan dapat mengangkat derajat orang tuanya. Interaksi semacam itu umumnya terjadi di lingkungan sekolah.
3.      Menyediakan peranan sosial yang baru kecuali jika berfungsi untuk mengalihkan warisan budaya pada anak, fungsi tersebut tidak digunakan. Kelompok sebaya membuat organisasi baru atau sistem sosial yang baru di dalam oragnisasi tersebut anak mempelajari tingkah laku baru pula. Seperti contoh anak dari keluarganya sudah belajar bagaimana dia berperan sebagai kakak atau adik,sebagai anak, cucu dan sebagainya. Kemudian contoh lain yaitu di dalam kelompok sebaya mereka bisa belajar bagaimana menjadi pemimpin kelompok,pengikut dan sebagainya.

Hubungan Kelompok Sebaya dan Sekolah 


Sekolah merupakan media yang diharapkan dapat membantu untuk melakukan sosialisasi. Sosialisasi pertama dilakukan dalam lingkungan keluarga sebelum menginjak ke lingkungan sekolah. Perbedaan penting antara keduanya ialah di sekolah guru akan menangani banyak siswa tidak per individu. Dalam hal ini pengaruh sekolah dapat memberikan dampak bagi seorang anak untuk dapat bersosialisasi antar sesama. 
Di dalam kelompok sebaya status yang ada di lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang penting dan langsung pada kemajuan anak tersebut di sekolah. Misalnya, terdapat murid yang menjadi kesayangan guru di sekolah dan murid yang suka membaca atau kutu buku cenderung tidak mendapat hati di dalam teman sebaya nya, justru dengan murid yang mendapatkan  nilai yang kurang akan mendapat hati diteman-temannya. Tetapi tidak semua seperti itu, kebanyakan juga kelompok sebaya menilai baik teman-temannya yang dinilai baik terhadap sekolahnya. 
Untuk memahami keberhasilan dan kegagalan tersebut, pendidik atau guru di sekolah perlu menyadari bahwa di dalam kelompok sebaya yang terdiri dari sekumpulan anak yang berusia seumuran dituntut untuk memenuhi harapan yang diinginkan, antara lain serangkai dari kelompok sebayanya,dan serangkai dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Ada beberapa kasus dimana seorang murid yang memilih untuk tidak melanjutkan sekolah, bukan karena kekurangan biaya tetapi karena tidak berhasil diterima oleh kelompok sebayanya dalam arti seperti kasus bullying.
Pengaruh sekolah dalam membangun karakter di kelompok sebaya ini memang sangat kuat. Sekolah berperan besar untuk memberikan pengaruh pada proses sosialisasi. Apalagi pada zaman sekarang yang mana sebagian waktu dihabiskan di sekolah sejak dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.     




Komentar

Postingan Populer